Menjadi penting yang tidak penting

Lelah ada, tapi itulah yang harus dinikmati…
Menikmati drama di panggung theatrikal legislator…, berjuang dengan moncong suara ternyaring- gaungkan teriakkan “demi suara rakyat” …”demi suara tuhan”

Dan dipanggung itu juga banyak yang lupa, tuhan telah menutup telinganya, dan tuhan pun tengah  berencana memberikan telinga kepada para aktor di panggung itu.
Mungkin telinga yang lebih sederhana. Telinga yang lebih sensitif … yang mampu menangkap senyap suara rakyat.

Karena rakyat tidak pernah berteriak, tuan
Karena rakyat takut berteriak, tuan
Karena rakyat tak mampu berteriak, tuan

Energi rakyat harus lebih optimal digunakan, membagi kepentingan rakyat lebih utama buat rakyat itu sendiri…, membagi tenaga yang harus disiapkan, antara menjaga realitas saat ini, memelihara keberadaan saat ini, dan merangkai cita buat masa nanti.

Mari tuan, mampir ke rumah rakyat, tinggalkan panggungmu sejenak, berbincang dan duduklah bersama kami, rasakan anyaman bambu kursi kami, nikmati hangatnya minuman kami…dengarkan cerita cerita kami, tentang awal hari kami berjuang..hingga sore kami bersendagurau dengan komunitas kami, komunitas rakyat yang malas teriak…
Agar kau bisa lebih maksimal memerankan sosok rakyat dipanggung theatrikal mu.

Dan kini, saat engkau kembali menulis skenario panggungmu, kadang kami berbisik senyap ..,
“Sesuatu yang penting…mungkin tidak penting”
Begitu tuan…

admin

orang biasa - dosen biasa - praktisi biasa

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: