Juni 2013 : (saat) BBM disesuaikan (naik)

Jumat 20 Juni 2013 malam, sepulang kerja,sepanjang jalan di gerbong kereta (krl) mulai terdengar gosip akan adanya kenaikan bbm, Dan Memang sebelumnya sudah heboh beritanya di all media.

dan ternyata, malam ini sudah mulai dipastikan kenaikannya. perjalanan ke rumah, di spbu mulai ramai antrian kendaraan, para saudara sedang berkompetisi meraih bbm “murah” terakhir kalinya, sebelum ditetapkannya kenaikan premium dari 4.500 menjadi 6.500…hal yang wajar,dan itulah hukum ekonomi, perilaku pasar terhadap komoditas yg bisa dikatakan non substitusi. Mari kita berhayal (saat ini saya menggunakan kata hayal, karena keterbatasan informasi dan data tentang masalah ini) hayalan mengenai substitusi energi, substitusi bbm , nahh loohhh….

saat setiap sekolah mengajarkan dan mensosialisasikan arti pentingnya berhemat, arti pentingnya sumber daya yang terbatas kepada setiap muridnya, saya rasa akan sedikit sekali “kegalauan massa” yang berbuntut dengan demo, unjuk rasa, hingga akhirnya unjuk kekuatan (berakhir dengan unjuk duka,air mata, dan kemarahan). Itu semua bisa dihindari jika dari awal, kita telah didik untuk mengembangkan energi kreatif (dan menyadari bahwa energi fosil adalah warisan leluhur yang bisa punah)

mari hayalkan, jika sekolah- sekolah kita difasilitasi pemerintah dengan ilmu tekhnologi yang memungkinkan para putra bangsa bereksperimen mencari energi pengganti. Akan banyak sekali kreatifitas putra bangsa kita, mungkin saja akan ada penemuan pengganti energi fosil , itu mungkin saja … toh saat ini sudah mulaui banyak energi non fosil, seperti energi matahari, energi angin, siapa tahu bisa terbentuk energi dari sabut kelapa, energi dari jantung pisang, energi dari limbah plastik …ya siapa tahu.

saat ini, saya hanya berusaha menyampaikan sedikit hal yang sedikit banyak dapat menghibur hati dari sekian banyaknya gejolak sosial dampak dari perubahan pola harga yang berpengaruh kepada pola konsumsi masyarakat, kembali lagi itu wajarrrrr…. sejak jaman kuno, mbah adam smith mengatakan adanya hubungan yang searah antara pendapatan , konsumsi belanja ,investasi , dan kebijakan pemerintah , agak sulit juga kalau pemerintah murni melepaskan kemampuan daya beli dengan melepaskan seluas-luasnya kepada pasar (masyarakat) , mungkin ini yang akan semakin memperlebar jarak daya beli (gap ekonomi sosial)  antara sang kaya dan sang miskin …atau bahasa politiknya “kesenjangan sosial”

Kalau sudah seperti itu ….jangan mengeluh , itulah masalah ! dan sebagai mahluk Tuhan yang paling mulia dan beradab …sudah pasti ada hukum sebab akibat “ada masalah …berusahalah untuk mencari solusi” bagaimana solusinya ? itu kembali ke kita …bagaimana memberikan hal positif bagi diri kita sendiri , berkaryalah untuk mendapatkan kebaikan ekonomi , dengan cara apapun tentu saja dengan memperhatikan hukum , moral dan agama

Selamat berkarya , ditengah kegalauan BBM 🙂

 

admin

orang biasa - dosen biasa - praktisi biasa

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: