Flu Usaha

* sekedar coretan ,tanpa pengujian teoritis akademis (ved)

Flu : “batuk pilek meriang” gak bahaya tapi cukup mengganggu, saat meeting serius …bisa pecah konsentrasi gara-gara nahan serangan longsor magma hidung …sroottt…, batuk sampe bersin , kata ahli sih flu indikasi bahwa tubuh kita butuh kita kelelahan, butuh istirahat, mungkin ini juga yang menyebabkan setiap ke dokter, resep yang diberikan cenderung membuat molor supaya kita full bedrest πŸ™‚

Bagaimana dengan Usaha , ya…setidaknya ada kemiripan, namanya “Flu Usaha” tidak berbahaya tapi cukup menggangu , usaha meriang , usaha pusing – batuk dan pilek . Dalam teori dasar manajemen keuangan sudah umum sekali dibahas dan dipelajari indikasi “flu’ usaha dalam analisa rasio , dan tulisan ini bukan untuk meberikan rumusan- rumusan manajemen keuangan, tetapi bagaimana merasakan sedini mungkin adanya “Flu Usaha” , tentu saja ini hanya dikaji dari sisi keuangan saja , karena serangan “Flu Usaha” bisa juga terjadi dari sisi manajemen SDM, manajemen operasional dan pengelolaan resiko. Yang kurang adalah bagaimana pencegahan dini “Flu Usaha”

  • Keuangan yang baik , “katanya” adalah saat liquid rasio kita diatas 100% , maksudnya adalah saat aset kita lebih besar dari jumlah kewajiban (hutang) kita , kalau menurut saya ini belum tentulah baik , mungkinkah ini kita belum bisa secara mengoptimalkan asset kita ? hanya menumpuk asset , tanpa melakukan aktivitas investasi , indikasi yang menunjukkan kita hanya “safety player” atau ekstrimnya lagi adalah kurangnya manajemen pengendalian hutang (penumpukan hutang) yang akan berdampak pada faktor non ekonomis , tingkat kepercayaan kreditur yang dapat menurun. Nah, bagaimana kita mengendalikan liquid Rasio ini , tingkat rasio yang tinggi belum tentu baik, apalagi tingkat rasio yang rendah
  • Hanya melihat total asset, tanpa menyadari isi dan maksud dari asset . Dalam laporan neraca , biasanya salah satu indikasi umum progres “kebaikan usaha” adalah meningkatnya nilai asset dari periode ke periode . Jangan lupa dalam sederet klasifikasi asset terdapat asset yang mengandung “virus” resiko . Piutang semakin tinggi (harap curiga dengan sistem penagihan kita?) , persediaan semakin banyak (apakah sesuai dengan rencana penjualan kita?), aset tetap yang tinggi (sudah optimalkah pemanfaatan asset kita?) ,d emikian pula dengan peningkatan Uang Muka (apakah sudah kita kontrol dana di pihak III ?) , pointnya adalah “penilaian usaha” hanya pada pertumbuhan asset perlu juga diperbandingkan dengan analisa resiko asset , jangan sampai ternyata semakin meningkatnya asset semakin besar pula resiko yang “luput” dari pengendalian
  • Bangga dengan Pendapatan yang tinggi . Hal ini tidaklah salah , tapi coba kita hitung, seberapa besar Pendapatan itu berpengaruh langsung terhadap kas/bank, atau justru hanya menambah aset piutang (yang memiliki resiko kerugian, gagal tagih, dan pembengkakan biaya cadangan kerugian piutang?). Pendaptan yang menimbulakn piutang yang terlalu tinggi (indikasi dari biaya cadangan kerugian piutang, adalah indikasi awal mulai akan terganggunya cash flow

 

*** tulisan akan segera dilanjutkan , ngaso dulu … πŸ™‚

admin

orang biasa - dosen biasa - praktisi biasa

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: