Matematika Hidup

Malam semua…

 

Tiba-tiba keinginan untuk menulis muncul malam ini. Bukan tema yang berat- berat, sekedar mengorek langkah yang pernah saya (atau mungkin anda juga) pernah lewati.

 

Tentang cita-cita hidup…

 

Pernahkah kita menghitung bobot nilai hidup ini, berapakah yang harus kita berikan nilai pada diri kita ? Sejak dibangku sekolah kita sudah mulai “teracuni” dengan kalkulasi nilai angka, nilai PR, nilai ulangan, nilai raport….bahkan lebih fariatif lagi, pertegasan warna menunjukkan prestasi kita …tinta hitam , berarti nilai kita baik, tinta merah ..berarti nilai kita hancur. Iseng sewaktu kecil, saya bertanya dalam hati ” Mengapa harus merah ?” Bukankah bendera kita juga ada merah nya…apakah merah dibendera kita menunjukkan nilai bangsa yang hancur ?

 

Ooohh terlalu berpolemik politis asumsi si kecil…., tapi mungkin juga iya

 

 

Akhirnya saya terpaksa mencari pembetulan jawaban sendiri …

 

“Karena warna tinta merah lebih menegaskan….bahwa kita hancur, bahwa tinta merah lebih ngejreng menunjukkan tentang nilai kita yang dibawa rata-rata, bahwa tinta merah lebih pantas dipandang mata dari pada menggunakan tinta kuning, hijau, atau warna lainya…”

 

 

Yahhh itu hanya sekilas flasback “asumsi masa kecil”, back to case….tentang bobot diri, bagaimana masalah bobot diri , nilai diri…

 

 

Pembobotan hidup merupakan suatu yang unik, abstrak…hanya kita dan tuhan yang tahu…

 

Berusaha untuk lebih jujur kepada diri sendiri akan lebih membantu kita untuk menilai keberadaan kita. Saya berusaha untuk tidak terjebak dengN beragam teori atau pendapat yang menyatakan “bahwa nilai diri bisa tercermin dari kualitas hidup” kualitas hidup disini adalah seberapa kuat pengaruh diri kita terhadap lingkungan termasuk terhadap individu yang lainnya . Semakin besar pengaruh kita, semakin besar nilai diri kita. Pendapat ini sepertinya ada benarnya, dan banyak juga yang sependapat dengan pendapat ini, pendapat yang wajar, umum….pendekatan paham materialistis.

 

Dan kembali, saya tidak mau terpancing dengan paham materialistis itu, pengaruh itu perlu, kualitas hidup juga perlu….tetapi kualitas hidup tidak selamanya berbanding lurus dengan kekuatan mempengaruhi

 

 

Kebiasaan yang mungkin kita lakukan adalah mendengarkan kata hati, mungkin pada masa tertentu kita lebih merasakan nikmatnyabhidup, dan pada suatu masa kita merasa betapa sulit…ekstrimnya sengsaranya hidup.

 

Jika kita jujur kediri kita sendiri,mpada saat kita bahagia berapa kah bobot kebahagiaan itu, dan sebaliknya..pada saat sulit, berapa bobot nilai dari rasa sulit kita…

 

 

Dan hari semakin malam, saya semakin bingung melanjutkan arah tulisan ini.

 

Ide ada didalam otak…., tapi….bagaimana menyampaikannya…

 

Point nya adalah…bagaimana bisa menyampaikan pesan, tentang keberhasilan kita, dan bagaimana mencapainya.

 

Tentang rencana dan cita-cita ….bagaimana mencapainya

 

Tentang rencana yang tidak mungkin untuk menjadi mungkin

 

Tentang cita-cita ….hingga terjebak dalam hayalan

 

 

Seperti biasa, sekedar coretan lepas, ide menguap…..dan akan saya lanjut kembali dengan mood yg berbeda

 

 

Matematika hidup , tambah tidak selalu bertambah, kurang tidak selalu mengurangi, bagi …lebih indahnya kata-kata berbagi, kali….tidak selalu memberikan suatu kelipatan…

 

 

Akan berlanjutttt….

 

admin

orang biasa - dosen biasa - praktisi biasa

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: